jump to navigation

Kewajiban Menuntut Ilmu Syar’i Agustus 3, 2008

Posted by Forum Kajian Islam Al-Atsary in umum.
Tags:
trackback

Oleh : Muslim Al-Atsari

Kebodohan merupakan salah satu penyebab utama seseorang terjerumus ke dalam kemaksiatan dan kefasikan, bahkan ke dalam kemusyrikan atau kekafiran. Dengan demikian kebodohan itu akan menyeret manusia keluar dari kebaikannya.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata,“Kebaikan anak Adam adalah dengan iman dan amal shalih, dan tidaklah mengeluarkan mereka dari kebaikan, kecuali dua perkara. Pertama. Kebodohan, kebalikan dari ilmu, sehingga orang-orangnya akan menjadi sesat. Kedua. Mengikuti hawa nafsu dan syahwat, yang keduanya ada di dalam jiwa. Sehingga orang-orang akan mengikuti hawa nafsu dan dimurkai (oleh Allah)”. *) *) [Majmu’ Fatawa 15/242.]

Demikian juga orang-orang yang beribadah kepada Allah dengan kebodohan, maka sesungguhnya mereka lebih banyak merusak daripada membangun! Sebagaimana dikatakan oleh sebagian salafush shalih,

مَنْ عَبَدَ اللهَ بِجَهْلٍ , أَفْسَدَ أَكْثَرَ مِماَّ يُصْلِحُ

Barangsiapa beribadah kepada Allah dengan kebodohan, dia telah membuat kerusakan lebih banyak daripada membuat kebaikan. *)*) [Majmu’ Fatawa 25/281.]

KEWAJIBAN MENUNTUT ILMU SYAR’I

Oleh karena bahaya penyakit kebodohan yang begitu besar, maka agama memberikan resep obat untuk menghilangkan penyakit tersebut. Rasulullah n bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Menuntut ilmu merupakan kewajiban atas setiap muslim. *)*)[HR. Ibnu Majah, no:224, dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani di dalam Shahih Ibni Majah.]

Yang dimaksudkan ilmu di sini adalah ilmu syar’i, ilmu yang diwahyukan Allah kepada Rasul-Nya, dan diwariskan kepada para ulama pewaris para Nabi.

Rasulullah n bersabda:

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Barangsiapa meniti satu jalan untuk mencari ilmu, niscaya –dengan hal itu- Allah jalankan dia di atas jalan di antara jalan-jalan sorga. Dan sesungguhnya para malaikat membentangkan sayap-sayap mereka karena ridha terhadap thalibul ilmi (pencari ilmu agama). Dan sesungguhnya seorang ‘alim itu dimintakan ampun oleh siapa saja yang ada di langit dan di bumi, dan oleh ikan-ikan di dalam air. Dan sesungguhnya keutamaan seorang ‘alim di atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama daripada seluruh bintang-bintang. Dan sesungguhnya para ulama itu pewaris para Nabi. Para Nabi itu tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mewariskan ilmu. Baramngsiapa yang mengambilnya maka dia telah mengambil bagian yang banyak. *)*)[HR. Abu Dawud no:3641, dan ini lafazhnya; Tirmidzi no:3641; Ibnu Majah no: 223; Ahmad 4/196; Darimi no: 1/98. Dihasankan Syeikh Salim Al-Hilali di dalam Bahjatun Nazhirin 2/470, hadits no: 1388]

Marilah kita perhatikan hadits yang agung ini. Ketika Rasulullah n menjelaskan keutamaan menuntut ilmu pada awal kalimat, dan keutamaan ‘alim (orang yang berilmu) pada pertengahan kalimat, lalu pada akhir kalimat beliau n menjelaskan bahwa ilmu yang dimaksudkan adalah ilmu yang diwariskan para Nabi, yaitu ilmu agama yang haq!

Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin t berkata: “Telah diketahui bahwa ilmu yang diwariskan oleh para Nabi adalah ilmu syari’at Allah k , bukan lainnya. Sehinga para Nabi tidaklah mewariskan ilmu tekhnologi dan yang berkaitan dengannya kepada manusia.” *)*)[Kitabul ilmi, hal: 11, karya Syeikh Al-Utsaimin]

Beliau juga berkata: “Yang kami maksudkan adalah ilmu syar’I, yaitu: ilmu yang yang diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya, yang berupa penjelasan-penjelasan dan petunjuk. Maka ilmu yang mendapatkan pujian dan sanjungan hanyalah ilmu wahyu, ilmu yang diturunkan oleh Allah”. *)*)[Kitabul ilmi, hal: 11, karya Syeikh Al-Utsaimin]

Rasulullah n juga bersabda:

نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَبَلَّغَهَا فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ غَيْرِ فَقِيهٍ وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ

Semoga Allah mengelokkan wajah seseorang yang telah mendengar perkataanku, lalu dia menyampaikannya. Terkadang orang yang membawa fiqih (ilmu; pemahaman; hadits Nabi) bukanlah ahli fiqih. Terkadang orang yang membawa fiqih membawa kepada orang yang lebih fiqih (faham) darinya. *)*)[HR. Ibnu Majah no:230, dan ini lafazhnya; Ahmad 5/183; Abu Dawud no: 3660; dan lainnya]

Ibnu Abdil Barr t berkata: “Beliau menamakan perkataannya dengan nama ilmu bagi orang yang merenungkan dan memahaminya”. *)*)[Jami’ Bayanil Ilmi Wa Fadhlihi]

Oleh karena itulah wahai saudara-saudaraku yang tercinta, istilah ilmu tidaklah dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya kecuali terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, sunnah Rasulullah n , atau kesepakatan seluruh umat terhadap suatu perkara, dan apa-apa yang dapat mendekatkan kepadanya. *)*)[Lihat Bahjatun Nazhirin 2/461, Syeikh Salim Al-Hilali]

Inilah kewajiban kita, kaum muslimin, baik terpelajar atau awam. Kita wajib mengetahui dan memahami apa-apa yang diperintahkan oleh Allah dan apa-apa yang Dia larang.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata: “Menuntut ilmu syar’i adalah fardhu kifayah, kecuali apa-apa yang wajib pada setiap individu. Seperti: setiap orang wajib menuntut (ilmu) apa-apa yang diperintahkan oleh Allah dan apa-apa yang Dia larang, karena sesungguhnya hal ini wajib atas setiap individu”. *)*)[Majmu’ Fatawa 28/80]

Dan yang paling wajib diketahui oleh setiap muslim adalah ilmu tentang tauhidullah, sebagaimana yang difahami oleh Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, bukan dengan pemahaman Khawarij, Jahmiyah, Mu’tazilah, Qadariyah, Shufiyyah, dan firqah-firqah sesat lainnya. Karena tidak ada keselamatan bagi hamba kecuali dengan tauhidullah.

Demikian pula seseorang wajib mengetahui cara-cara yang benar di dalam beribadah kepada Allah, sehingga dia beribadah sesuai dengan Sunnah, bukan dengan bid’ah, hawa-nafsu, dan kebodohan. Dan wajib mengetahui perkara-perkara yang membatalkan tauhid, yaitu syirik, agar dia dapat menjauhinya. Oleh karena itulah para ulama menyebutkan bahwa salah satu syarat Laa ilaaha illa Allah adalah ilmu. Mereka berdalil dengan firman Allah:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Ilah (Yang Haq) melainkan Allah (QS. 47:19)

Demikina pula kebodohan sesungguhnya merupakan penyakit yang seharusnya segera diobati, sebelum kronis. Dan obatnya adalah ilmu, sebagaimana sabda Rasulullah n di dalam sebuah hadits yang panjang:

أَلاَ سَأَلُوْا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوْا فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ

Tidakkah mereka bertanya ketika mereka tidak tahu, padahal sesungguhnya obat kebodohan hanyalah bertanya. *)*)[HR. Abu Dawud, kitab: Thaharah, bab: Al-Majruh yatayammamu (orang yang luka bertayammum), dihasankan oleh Syeikh Al-Albani di dalam Shahih Abi Dawud]

Hadits ini menunjukkan bahwa menuntut ilmu merupakan obat kebodohan, juga mendorong orang jahil (bodoh) untuk minta fatwa (bertanya tentang peristiwa yang terjadi) kepada ulama’. Sehingga tidak boleh orang yang bodoh minta fatwa kepada orang bodoh lainnya, atau orang yang bodoh memberi fatwa kepada orang bodoh lainnya, sebagaimana seorang yang buta tidak boleh menuntun orang buta lainnya.

AHLI ILMU DUNIA, BODOH ILMU AGAMA

Di zaman ini kebanyakan kaum muslimin sangat memperhatikan perkara-perkara dunia dan ilmu-ilmunya, tetapi mereka lalai dari akhirat dan ilmu-ilmu bermanfaat yang dapat membawa menuju kebahagiaan di akhirat. Padahal Allah telah mencela orang yang demikian keadaannya, Dia berfirman:

وَعْدَ اللهِ لاَ يُخْلِفُ اللهُ وَعْدَهُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ {6} يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ اْلأَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ {7}

(Sebagai) janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. (QS. 30:7)

Ayat ini memberitakan keadaan kebanyakan manusia “mengetahui lahiriyah apa yang mereka saksikan, yang berupa: perhiasan-perhiasan dan kelezatan dunia, serta perkara kehidupan mereka, sebab-sebab yang menghasilkan keuntungan-keuntungan duniawi mereka. Tetapi mereka lalai tentang akhirat, tidak memperhatikannya, dan tidak mempersiapkan untuk akhirat apa-apa yang dia butuhkan”. *)*)[Zubtadut Tafsir Ringkasan Tafsir Fathul Qadir, karya DR. Muhammad Sulaiman bin Abdullah Al-Asyqar, surat Ar-Rum: 6-7]

Ketika menjelaskan firman Allah:

{7} وَهُمْ عَنِ اْلأَخِرَةِ هُمْ غَافِلُون

sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. (QS. 30:7)

Syeikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di t berkata: “Hati, kecintaan, dan kehendak mereka (kebanyakan manusia) tertuju kepada dunia, selera-seleranya dan kesenangannya. Sehingga mereka bekerja untuk meraihnya, berusaha, datang dan pergi karenanya, tetapi lalai dari akhirat. Mereka tidak merindukan sorga, tidak takut dan khawatir terhadap neraka. Mereka tidak cemas dan takut berdiri menghadapNya dan bertemu denganNya (di akhirat). Itulah tanda kecelakaan dan kelalaian dari akhirat.

Tetapi yang mengherankan, bahwa kelompok manusia tersebut kebanyakan mereka sangat pandai dan cerdas dalam perkara dunia secara lahiriyah, sampai perkara yang membingungkan akal dan mencengangkan fikiran. Mereka mampu menampakkan keajaiban-keajaiban masalah atom, listrik, kendaraan darat, laut dan udara. Perkara-perkara yang mereka melebihi yang lain dan menonjol. Dan mereka menganggap orang lain tidak mampu melakukan apa yang Allah telah berikan kemampuan terhadap mereka. Sehingga mereka memandang orang lain rendah dan remeh.

Tetapi walaupun demikian, mereka adalah orang yang paling bodoh terhadap perkara agama mereka. Paling lalai dari akhirat. Dan paling sedikit pengetahuannya terhadap akibat-akibat (segala perkara).

Orang-orang yang memiliki pandangan yang tajam telah melihat mereka berbuat sembarangan di dalam kebodohan mereka. Mereka bingung di dalam kesesatan, dan bolak-balik di dalam kebatilan mereka. Mereka lupa kepada Allah, maka Allah melupakan terhadap (kebaikan untuk) diri mereka. Mereka adalah orang-orang fasik…Perkara-perkara ini (ilmu-ilmu dunia) seandainya diiringi oleh keimanan, dan dibangun di atas keimanan, pastilah membuahkan kemajuan yang tinggi dan kehidupan yang baik. Tetapi karena kebanyakannya dibangun di atas kekafiran, maka tidaklah membuahkan kecuali merosotnya akhlak dan sarana-sarana kebinasaan dan kehancuran”. *)*)[Taisir Karimir Rahman, surat Ar-Rum, ayat: 7]

Oleh karena itulah Rasulullah n bersabda:

إِنَّ اللهَ يُبْغِضُ كُلَّ عَالِمٍ بِالدُّنْيَا جَاهِلٍ بِالْأخِرَةِ

Sesungguhnya Allah membenci kepada tiap-tiap orang yang alim terhadap dunia tetapi bodoh terhadap akhirat. *)*)[Shahih Al-Jami’ush Shaghir, no: 1875]

CARA BERAGAMA

Setiap muslim wajib mengikuti apa yang diperintahkan oleh Allah di dalam kitabNya dan mengikuti Rasul-Nya di dalam Sunnahnya. Orang yang tidak ridha mengikuti apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya, tidaklah dinamakan muslim.

Allah berfirman:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَّقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul mengadili diantara mereka ialah ucapan “Kami mendengar dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. An-Nur : 51)

Komentar»

No comments yet — be the first.